Modal Psikososial Dalam Membangun Kemandirian Bangsa Print
Written by Suryanto   
Friday, 02 July 2010 23:01



Yang Terhormat,

Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga;

Ketua, Sekretaris, dan Para Ketua Komisi, dan Anggota Senat Akademik Universitas Airlangga;

Rektor dan Para Wakil Rektor Universitas Airlangga;

Para Guru Besar Universitas Airlangga;

Para Guru Besar Tamu dari Luar Universitas Airlangga;

Para Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan Universitas Airlangga; Para Ketua Lembaga di Lingkungan Universitas Airlangga;

Para Teman Sejawat dan Segenap Sivitas Akademika Universitas Airlangga; Para Undangan dan Hadirin yang saya muliakan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat Pagi dan Salam Sejahtera,

Tidak ada kalimat yang terindah untuk saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, kecuali rasa dan ucapan syukur Alhamdullilah hirobil `alamin kehadirat Allah swt. Hanya karena rahmat dan karunia-Nya, kita semua masih mendapatkan nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga dapat hadir dan berkumpul disini menghadiri Rapat Terbuka Senat Akademik Universitas Airlangga dalam acara pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam bidang Psikologi Sosial pada Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Bagi saya jabatan akademik ini merupakan anugerah Alah swt yang tidak terpikirkan. Jangankan memikirkan guru besar, apa yang bisa dimakan saja kala itu harus menjadi perhatian utama, sehingga banyak menyita waktu untuk dapat mengembangka diri. Hanya saja yang menjadi modal hidup saya sampai saat kini adalah keyakinan, yaitu keyakinan bahwa selama manusia berusaha dengan luar biasa, selama itu pula keberhasilan yang luar biasa juga akan dapat diraih dalam segala hal kehidupan. Kata "luar biasa" ini mengingatkan rekan saya Andrew Wongso yang selalu menggunakan kata tersebut selama PON XVII12008 di Kalimantan Timur

Selain keyakinan, sikap tawaqal dan doa orang tua juga tidak pernah terlewatkan, karena itu berbaiklah selalmu dengan orang tua dan jangan mendurhakainya. Selama manusia berusaha, selama itu Allah swt akan memberikan jalan baginya seperti tertuang dalam ungkapan Man process, God disposes atau dalam kitab suci Al-Quran yang menyatakan Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubahnya sendiri (QS. Ar-Ra'du:11).

Hadirin yang terhormat,

Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah. Sumber daya manusianya juga banyak, bahkan menduduki nomor 3 di Asia setelah Cina dan India. Namun apakah dengan kekayaan alam dan jumlah sumber daya manusia itu cukup untuk membuat ini menjadi bangsa yang besar yaitu bangsa yang menjadi tolok ukur dan panutan bangsa lain di dunia? Jawabnya tentu tidak. Kekayaan alam akan habis seiring berjalannya waktu. Sementara itu, sumber daya manusia yang tidak berkualitas hanya akan membebani keluarga dan pada akhirnya membenani negara.

Sejarah telah membuktikan bahwa kebesaran dan kejayaan suatu negara bukan karena kekayaan alamnya. Inggris, Portugis, Belanda, Spanyol di tahun 1400- an pernah menunjukkan kejayaannya karena sumber daya manusianya yang berani melanglang dunia dengan kepiawaiannya menggunakan teknologi kelautannya. Indonesia di tahun 1960-an pernah menjadi negara adidaya karena ada sumber daya manusia yang sangat luar biasa di kala itu, yaitu pemimpinnya.

Saya melihat kejayaan Indonesia di masa itu karena bukan alasan ekonomi untuk mengembangkan diri, melainkan karena semangat kemandirian dan itu semua karena kita memiliki modal sosial psikologi yang kuat. Bayangkan negara Indonesia di masa itu menjadi inspirator konferensi Asia-Afrika tahun 1955, ada Asian Games tahun 1962 dan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) di tahun 1963 yang menjadi pesaing olimpiade. Bangunan seperti Monumen Nasional adalah salah satu bukti berdirinya keagungan negeri ini, di samping kemegahan Stadion Utama Senayan yang menjadi ajang penyelenggaraan pentas olahraga dunia.

Posisi sebagai salah satu dari tujuh "macan" Asia pada dekade lampau, kini tinggal kenangan. Hari ini, negara dengan populasi lebih dari 200 juta ternyata hanya gerombolan "macan ompong" yang limbung sedang terseok-seok mencari solusi bagi problema zamannya. Realitas hari ini, Indonesia tak setanding dengan negeri jiran Singapura (populasi 3 juta), apalagi dengan Malaysia (populasi 25 juta). Secara kolektif, 120 jutaan insan dewasa yang hidup di Indonesia kapasitasnya inferior dibandingkan dengan 2 jutaan insan dewasa Singapura dan 16 jutaan insan dewasa Malaysia. Apa pun alasannya, para warga Singapura dan Malaysia saat ini merasa lebih superior dari warga Indonesia (Susanto, 2005).

Dilihat dari sumber daya manusianya, Human Developemental Index (HDI) Indonesia sampai tahun 2007 masih menunjukkan rangking 127 dunia. Bahkan untuk tingkatan Asia Tenggara, posisi Indonesia di bawah Singapura yang menduduki ranking 26 dan Malaysia dengan ranking 60 (http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Pembangunan_Manusia).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2008 mencapai 8,39 persen atau 9,39 juta orang dari total angkatan kerja yang besarnya 111,95 juta orang (http:11www.analisadaily.com). Tentunya pengangguran ini tidak saja muncul secara kebetulan. Usaha Pemerintah dengan melakukan pinjaman (kata halusnya dalam jaman orde baru adalah bantuan) dari Bank Dunia melalui IMF tidaklah mampu untuk mengatasi. Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan bahwa investasi dengan meminjam hutang luar negeri akan menimbulkan dampak Tricle Down Effect Theory seperti para ahli ekonomi sampaikan tidaklah terbukti. Pinjaman luar negeri tidaklah mampu mengangkat kesejahteraan dan mengurangi pengangguran. Yang tersisa hanyalah beban hutang luar negeri yang harus ditanggung oleh pemerintah dan harga diri bangsa yang semakin rendah. Bila dibandingkan, hutang luar negeri terparah terjadi pada era Orde Baru.

Di era Presiden Soekarno, dengan semboyan `Go to Hell With Your Aids', selaku pemimpin bangsa waktu itu Soekarno berprinsip menolak utang luar negeri. Soekarno menolak bekerja sama dengan negara imperialis1penjajah dan lebih memilih berdikari. Saat kekuasaannya berakhir pada 1966, Soekarno hanya mewariskan utang luar negeri US$ 2 miliar.

Di era Presiden Soeharto, pemerintah RI berprinsip menganggap perlu utang luar negeri dengan istilah halus pinjaman luar negeri untuk mempercepat pembangunan ekonomi nasional yang diagendakan dalam Repelita. Prinsip inilah yang akhirnya membuahkan dampak buruk berupa melonjaknya utang luar negeri Indonesia menjadi US$ 15,9 miliar (1981), lalu menjadi US$ 84,39 miliar (1992). Di akhir kekuasaan Soeharto, Mei 1998, jumlah utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 150 miliar karena pemerintah juga mengambil alih hutang swasta. Saat itu pula Indonesia masuk dalam kelompok negara miskin di dunia dengan beban utang luar negeri setara negara-negara miskin di Benua Afrika seperti Kongo, Angola, Nikaragua, dan Zambia

Pada 2004, total utang Indonesia tercatat US$ 190 miliar yang terdiri atas utang luar negeri pemerintah US$ 78,7 miliar, utang luar negeri BUMN US$ 4,8 miliar, utang luar negeri swasta US$ 45,5 miliar, dan utang pemerintah dalam negeri US$ 60 miliar. Pada 2006, utang Indonesia mencapai Rp 1.300 triliun.

Didik J Rachbini menggambarkan bahwa utang luar negeri bangsa ini yang harus dibayarkan pada asing sekitar setara dengan lebih dari 600 BUMN yang ada di Indonesia jika aset BUMN itu sekitar 3 trilyun rupiah (Rachbini, 2005). Angka hutang ini kiranya menjadi bahan pemikiran bersama oleh para ekonom, bahwa tidak semua teori yang diadop dari barat seperti teori pembangunan dari Rostow (1960) itu dapat diadopsi dengan baik di Indonesia.

Selain persoalan hutang, dependensi (ketergantungan) bangsa Indonesia pada luar juga sangat tinggi. Dalam bidang Militer, teknologi kemiliteran kita menjadi lemah bila dibandingkan negara tetangga. Embargo militer menyebabkan peralatan yang dibeli tidak bisa digunakan lagi, karena spare part-nya tidak ada. Negara Agraris yang tanahnya luas saja juga sempat mengalamai impor beras dari negara lain.

Masih banyak ketergantungan lain dari bangsa lain pada negara lain. Kalaupun kita berhubungan selama hubungan luar negeri itu menguntungkan bangsa ini, kiranya hal itu sangat diharuskan, dan bahkan harus didukung oleh seluruh komponen bangsa ini. Namun apabila ketergantungan ini mengakibatkan keterpurukan, baik jangka menengah maupun jangka panjang, maka hal itu perlu ditinggalkan.

Ibarat pengguna narkoba. Seorang pengguna narkoba akan selalu meminta suplai narkoba. Dia tidak akan mampu mengendalikan diri sampai narkoba yang diinginkan itu didapat. Pengguna ini tidak akan pernah memikirkan bagaimana akibatnya. bahkan untuk menyembuhkannya pun perlu masa yang tidak pendek, kalau dia tidak mati. Pengguna narkoba itu juga umumnya menjadi korban gaya hidup. Selain kesalahan teman yang dipilih, gaya hidup yang berusaha serba "wah" dan kontrol diri sendiri dan keluarga juga menjadi pemicunya.

Sifat keenakan hutang, tapi lupa membayar, dukungan dari teman negara lain yang sama-sama berkembang, namun tidak didukung kesadaran diri akan akibat tindakan itulah yang tampaknya menjadi pendorong keterpurukan bangsa ini. Berwisata saja harus keluar negeri, padahal apa yang dilihat di luar negeri belum tentu lebih baik dari di negeri sendiri.

Akankah kita bangga sebagai bangsa yang identik dengan pengguna narkoba? Tidak dan tidak akan. Jawabnya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya berusaha menggali potensi bangsa dengan mengadopsi apa yang ada di luar sana (biar tidak dikatakan tidak ketinggalan jaman) dengan menggali hal-hal yang ada dalam negeri ini. Inilah yang kami sebut sebagai modal psikososial. Harapannya, dengan modal psikososial ini kemandirian bangsa bisa diraih sehingga keterpurukan yang ada dapat dihentikan dan tidak sampai berkepanjangan.




Hadirin yang kami hormati,

Sebelum membahas tentang modal psikososial, perkenankan saya menyampaikan bahwa mengapa kemandirian bangsa ini dipertanyakan? Berbagai penyebabnya yaitu: (1) Luasnya wilayah tidak didukung oleh kemampuan sumberdaya manusia yang mumpuni (istlah kerennya adalah kompetensi). Bagaimana lagu Dari Sabang sampai Merauke menggugah hati kita. Makna menunjung tanah airku masih belum dihayati sehingga tanah-tanah di kepualaun Riau dijual ke Singapura untuk menimbun laut hingga menjadi Pulau Sentosa. (2) Pancasila sudah digantikan oleh ideologi lain, yaitu kapitalis dan materialis yang diterima bersamaan dengan munculnya liberalisme. Bagaimana Ketuhanan Yang Maha Esa sudah mulai digantikan dengan keuangan yang maha kuasa, bagaimana kedaulatan rakyat sudah digantikan dengan democrazy. Orang bekerja bukan karena amanah Allah swt, tapi karena motivasi upah. (3) Penyakit terheran-heran (gumunan). Heran terhadap hal-hal yang bersifat kebarat-baratan. Ada nilai yang mewabah di dalam diri kita. Bila tidak menggunakan teori dari barat, kita tidak afdol dalam membahas bidang keilmuan. Kalau tidak ada eksperimen dan memenuhi standat keilmuan tidak dikatakan itu ilmiah. Dari kasus Ponari di Jombang menunjukkan bahwa tidak semua yang kita adop melalui teknologi barat itu mesti selalu hebat. Ponari pun juga bisa menjadi hebat tentunya dengan ijin Allah. (4) Hilangnya kepercayaan (trust) pada pengelola negara maupun lembaga negara. Kasus 1998 merupakan bukti bahwa rakyat tidak percaya pada pemimpinnya. Terkait dengan pemilu, angka partisipasi pemilih dalam pemilu yang dibawah 50% mencerminkan ketidak percayaan lain pada rakyat akan apa yang dihasilkan dari pemilu tersebut, sampai-sampai ada fatwa "golput itu haram". Kalau rakyat percaya pada pemimpin dan sekaligus pada sistem yang dianutnya, tentunya hal itu tidak sampai terjadi (5) Sifat egosentrisme pribadi dan juga golongan. Munculnya sifat egosentris mengakibatkan bahwa diri atau golongannya merupakan ukuran bagi pribadi atau golongan lain. Sifat ini muncul karena adanya rasa keminter yang berakibat pada tindakan minteri yang lain. Dirinyalah yang merasa hebat, dan kalau tidak diri atau golongannya, maka keberhasilan pembangunan itu tidak akan terjadi. (6) Tatanan perilaku yang didasari pada nilai budaya lokal mulai ditinggalkan. Hidup yang mau rekoso (sengsara), tanggon (kuat) terhadap prinsip hidup, kesetiaan pada hati nurani, mulai digantikan dengan hedonisme, mudah menyerah, mencari jalan pintas. Gejala ini banyak mewabah dalam diri kita.

Mungkin masih banyak hal yang perlu dikritisi dalam diri kita, namun keenam poin inilah yang berkait dalam kajian tentang kemandirian bangsa ini. Kritik ini bukan sebagai taparan melainkan lebih sebagai refleksi bagamana sebaiknya kita menatap masa depan yang lebih baik lagi.

Hadirin yang kami Muliakan,

Perjuangan untuk mencapai cita-cita memerlukan modal. Kemandirian Bangsa sebagai suatu karakter dan sekaligus cita-cita tidak gampang dilakukan. Tidak tergantung dan menggantungkan pada bangsa lain memerlukan pengorbanan. Peribahasa jer basuki mawa beya yang juga dijadikan semboyan pada lambang Jawa Timur itu sudah tepat kiranya menjadi salah satu nilai yang bisa kita anut. Kamulyan itu tidak bisa diraih secara instan, namun membutuhkan laku prihatin. Orang yang prihatin itu biasanya sengsara telebih dahulu dan mendapatkan kebahagian kemudian. Kalau kita mau membangun negeri ini bukan pinjaman yang diperbesar, namun kita perlu menahan diri sambil mawas diri untuk membuat langkah-langkah yang lebih baik dan strategis.

Kemandirian bangsa adalah bukanlah kata mutiara, yang bagus untuk diucapakan namun susah untuk dilaksanakan. Bangsa yang mandiri memiliki pengertian bahwa bangsa ini mampu memenuhi kebutuhan diri. Kebutuhan diri ini harus cukup walaupun tidak berlebihan. Dalam psikologi istilah ini dikenal dengan self-sufficiency. Untuk bisa hidup cukup, seseorang harus bisa menemukan sumber­sumber yang bisa membuat dirinya mampu memenuhi dirinya dengan layak. Untuk mencapai semua itu dibutuhkanlah usaha dari individu secara optimal.

Dalam konsep perkembangan manusia, kemandirian biasanya ditandai dengan kemampuan remaja untuk mengurangi dan bahkan terlepas dari ketergantungan pada orang tuanya. Bila contoh ini ditarik pada konteks kebangsaan, maka pihak luar yang selama ini membuat bangsa ini tergantung pada Negara lain, pelan-pelan harus sudah mulai ditinggalkan. Untuk meninggalkan inilah yang akhirnya dibutuhkan modal. Bila pada remaja, modal untuk mandiri itu adalah kemampuan fisik dan psikologis serta kompetensinya, maka dalam konteks bangsa ini modalnya adalah modal psiko­sosial.

Hadirin yang Kami Muliakan,

Apakah modal psiko-sosial itu? Modal psikososial adalah modal yang bersumber dari sifat-sifat pribadi dan sifat-sifat yang dibutuhkan saat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Modal psiko-sosial ini merupakan gabungan dari dua konsep teoretis yang selama ini sudah berkembang dalam psikologi, yaitu modal psikologis yang dikembangkan oleh Luthan. dkk, dan konsep modal sosial yang banyak dikembangkan oleh Putnam, dkk.

Kedua modal ini perlu digabungkan mengingat dalam membentuk kemandirian bangsa diperlukan tidak saja modal yang tumbuh dari sifat-sifat personal, melainkan juga dibutuhkan modal yang muncul ketika kita berinteraksi dengan pihak lain. Sifat-sifat personal tumbuh dan berkembang ketika seseorang membahas usaha untuk mencapai keberhasilan, sementara itu modal sosial dibutuhkan ketika seseorang dalam kelompok sosial yang lebih luas.

Kemandirian bangsa dapat dipandang dari dua perspektif. Perspektif pertama berhubungan dengan karakter individu yang merupakan unsur inti dari bangsa ini. Perspektif kedua berhubungan dengan konsep bangsa sebagai kolektifitas individu yang merupakan bagian dari institusi negara yang dengan segala kemampuannya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak terikat oleh dukungan bangsa lain.

Bambang Isamawan (2003) menyatakan bahwa kemandirian adalah satu sikap yang mengutamakan kemampuan diri sendiri dalam mengatasi pelbagai masalah demi mencapai satu tujuan, tanpa menutup diri terhadap pelbagai kemungkinan kerjasama yang saling menguntungkan.

Sebagai karakter bangsa, bangsa yang mandiri akan memiliki ciri-ciri seperti berikut: (a) ia sudah bisa menemukan diri sendiri (self—discovery), (b) ia sudah memiliki kemampuan diri (self-competency), (c) ia memiliki kepercayaan diri (self confidance), (d) memiliki kemauan yang kuat (will -power) untuk mengerjakan sesuatu hingga tercapainya tujuan.

Sebagai suatu kolektivitas individu, bangsa yang mandiri akan memiliki sifat­sifat seperti berikut: (a) Bangsa yang mampu menemukan identitas kebangsaannya (national identity). Identitas kebangsaan ini mencerminkan kekhasan bangsa itu dari bangsa lain. Identitas ini juga mencerminkan dasar-dasar pemersatu bagi bangsa tersebut (b) Bangsa yang mampu memenuhi standar kebutuhan hidupnya. Bangsa yang demikian tidak harus selalu memerlukan bangsa lain dalam kehidupan berbangsa (national self-help), (c) Bangsa yang berani membuat keputusan untuk mandiri (risk taking in decision making). Keberanian ini tergantung pada pemimpinnya. Negara besar memang tidak selalu memiliki pemimpin yang besar, namun kalau negara itu berasal dari berkembang, pemimpin besar harus dibutuhkan. (d) Bangsa yang mampu mengembangkan teknologi yang inovatif dan mutahir. Teknologi ini diperlukan, karena digunakan untuk mempersiapkan diri dalam berkompetisi dengan bangsa lain. Dalam psikologi teknologi baru akan selalu muncul dari orang-orang yang kreatif dan memiliki rasa ingin tahu tinggi.

Baik untuk karakter individu maupun bangsa sebagai kolektifitas individu, pembentukannya dan pencapaiannya tidak mudah. Dibutuhkan suatu modal usaha. dan modal usaha ini akan tercermin dari modal psikologis dan modal sosial seperti judul dalam pidato ini.

Hadirin yang kami muliakan,

Modal Psikologis (Psychological Capital), menurut Luthans, dkk (2007), adalah keadaan perkembangan psikologi individu yang positif, yang dicirikan oleh:

(1) adanya kepercayaan diri (self-efficacy) melakukan tindakan yang perlu untuk mencapai sukses dalam tugas-tugas yang menantang; (2) atribusi yang positif (optimism) tentang sukses masa sekarang dan yang akan datang; (3) persistensi dalam mencapai tujuan, dengan kemampuan mendefinisikan kembali jalur untuk mencapai tujuan jika diperlukan (hope) untuk mencapai kesuksesan; dan (4) ketika menghadapi masalah dan kesulitan, mampu bertahan dan terus maju (resilliency) untuk mencapai sukses.

PsyCap dipahami, dan dibangun dari teori yang sudah mapan tentang human capital, yang bertanya tentang what you know, modal sosial menanyakan tentang who you know. Sementara itu PsyCap akan berhubungan dengan pertanyaan who you are dan who you are becoming (Luthan, dkk, 2007).

PsyCap terdiri dari pengetahuan, ketrampilan, kemampuan teknik, dan pengalaman. Oleh karena itu muncul pertanyaan "siapa kamu". Sama dengan modal social, PsyCap merupakan group-level metaconstruct, seperti dukungan sosial, jejaring hubungan yang menentukan "siapa kamu", dan PsyCap akan melihat adanya tekanan psikologis pada diri seseorang.

Hadirin yang saya muliakan,

Aspek pertama dari PsyCap adalah efficacy. Efficacy dalam hal ini dapat dipahami sebagai kepercayaan untuk meraih sukses (Confidence to Succeed). Aspek ini akan memotivasi seseorang untuk melalukan suatu tindakan baru di depannya atau tidak. Bila peluang gagal lebih tinggi dari peluang suksesnya maka individu tidak akan termotivasi untuk melakukan perubahan dalam dirinya.

Albert Bandura (1986) mendefinisikan self-efficacy sebagai tingkat perkiraan individu pada kemampuannya menyelesaikan tugas tertentu. Self-efficacy yang tadinya merupakan domain khusus dapat meluas menjadi domain umum seiring dengan meningkatnya tingkat percaya diri seseorang. Ketika individu yang memiliki self-efficacy pada tugas tertentu sukses melakukan tugasnya, maka tingkat kepercayaan dirinya dapat meningkat dan hal ini membuat dirinya lebih percaya diri bahwa ia juga akan mampu melakukan tugas yang lain.

Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan untuk melihat apakah kita memiliki self-efficacy yang tinggi atau tidak, yaitu : (1) Apakah anda percaya pada diri anda sendiri? (2) Apakah anda tahu bahwa anda memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan? (3) Apakah anda yakin anda potensi diri untuk sukses berada dalam diri saudara?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas akan mencerminkan tingkat self-efficacy seseorang. Dengan self-efficacy orang akan terdorong untuk memilih tugas­tugas yang menantang dan menggunakan kekuatan dan kemampuan tersebut untuk menghadapi tantangan. Tingkat self-efficacy juga menyemangati seseorang untuk mengejar tujuan yang ingin diraih, menginvestasikan waktu, dan bersedia bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila seseorang mengalami kesulitan dalam berusaha, self-efficacy juga yang membantu untuk tetap tegar, yang pada gilirannya akan meningkatkan harapan, optimisme dan resiliensi anda.

Untuk dapat mengukur tingkat self-efficacy anda, penting untuk menganalisis hal-hal yang anda yakini dapat anda lakukan. Setiap orang memiliki comfort zone­nya, yaitu area yang dikuasai olehnya yang membuatnya merasa sangat percaya diri. Sebagian orang juga memiliki area-area baru yang belum dikuasai benar, tetapi diminati untuk dikuasai di kemudian hari. Bagaimana caranya menguasai sesuatu hal yang baru? Dengan cara mengalahkan rasa takut dan keengganan untuk berubah, dan keberanian mengambil langkah pertama.

Dalam kasus hilangnya kemandirian bangsa, bila ingin membebaskan diri dari hutang bukanlah perj uangan yang ringan. Efficacy para pengambil kebijakan sangat dibutuhkan. Efficacy ini perlu dimunculkan dengan menumbuhkan zona aman sebagai bangsa yang bila melepaskan diri dari pinjaman luar negeri. Ketika bangsa sudah dapat menemukan potensi diri untuk hidup secara layak (walaupun minimal), ketika para pemimpin mampu meyakinkan bahwa bangsa ini dapat hidup tanpa bantuan asing, maka situasi penemuan diri itu harus dijadikan momen untuk memutuskan bahwa bangsa Indonesia bisa hidup tanpa tergantung pada bangsa lain, walupun sejumlah kepahitan kecil akan muncul.

Negara-negara yang tidak kena dampak global adalah negara yang mengukur kesejahteraan sosial berdasarkan spiritualitasnya, bukan pada kekayaan materialnya. Orang di pelosok pedalaman akan tidak banyak kena dampak global daripada orang suka mengkonsumsi barang dan jasa yang diakibatkan globalisasi. Barangkali kita perlu melakukan refleksi diri agar kedamaian dan kebahagiaan tidak semata diukur dari banyaknya kepemilikan materi dan penggunaan jasa modern, melainkan dari kekayaan spiritual. Dengan demikian, apabila masyarakat sudah ditata spiritualitasnya secara lebih mapan, maka ketergantungan akan pihak luar dapar dihindarkan, meskipun ada embargo

Hadirin yang kami muliakan,

Aspek kedua dalam modal psikologis atau PsyCap adalah optimisme. Optimisme adalah konstruk yang tidak cukup dipahami, meskipun kata "optimis" sering digunakan baik secara akademik maupun non akademik. Dalam pengertian sehari-hari, individu yang optimis adalah individu yang mengharapkan sesuatu yang positif dan diinginkan terjadi di masa depan, sebaliknya individu yang pesimis adalah individu yang memiliki pikiran-pikiran negatif dan yakin bahwa akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan.

Sebagai salah satu aspek yang penting dalam modal psikologis, makna optimisme jauh dari kesan "permukaan", tidak sekedar memprediksi sesuatu yang baik akan terjadi di masa depan. Optimisme mengandung alasan-alasan dan atribusi yang digunakan individu untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi, baik yang positif maupun negatif. Alasan dan atribusi inilah yang membedakan di sisi mana individu berada dalam kontinum optimistik-pesimistik.

Menurut Martin Seligman, bapak gerakan psikologi positif, optimisme adalah gaya penjelasan (explanatory style) yang mengatribusikan kejadian-kejadian positif yang terjadi pada diri seseorang dengan sebab-sebab internal yang sifatnya permanen dan pervasif. Ia menginterpretasikan kejadian-kejadian buruk sebagai faktor yang sifatnya eksternal, sementara (temporal) dan hanya berlangusung pada situasi tertentu (dalam Luthan, dkk 2007). Dari definisi Seligman ini, orang yang optimis akan melakukan rasionalisasi (pembenaran) diri terhadap kejadian-kejadian negatif yang dialaminya. Dia tidak melihat kegagalan sebagai kesalahan yang sudah mentradisi.

Dalam kasus kemandirian bangsa, orang yang optimis akan melihat masa depan kejayaan bangsa dengan penuh antusias. Keberhasilan membangun negeri ini ditentukan oleh faktor internal bangsa ini, bukan ditentukan oleh hutang dari luar. Kekayaan alam dan seluruh potensi bangsa dipandang sebagai suatu kekuatan yang bisa didayagunakan secara optimal untuk kemakmuran rakyat. Kalaupun rakyat harus menderita karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sendiri, maka sifat ketidakmampuan ini hanya sementara. India memiliki gerakan swadesi untuk mengatasi kemiskinan problem global. Cina memiliki sikap disiplin dan kerja keras untuk menjadikan negaranya kuat. Karakter bangsa yang penuh optimisme inilah yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan yang melilit negeri ini.

Bangsa yang pesimis adalah bangsa yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Misalnya, bangsa ini susah maju karena bangsa ini telah dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. Sumber daya manusianya memang tidak berkualitas, dan bangsa ini harus menjadi bagian masyarakat global apabila ingin dibantu oleh negara lain, dan yang lebih parah adalah keinginan segolongan tertentu untuk mendapatkan bantuan asing dengan memanfaatkan situasi krisis.

Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk membangun sikap optimisme yang fleksible dan realistis, (Luthan, dkk, 2007) yaitu: (1) Leniency for the past, merupakan teknik reframing yang menggunakan pendekatan problem-centered coping untuk menangani aspek-aspek dari situasi yang masih dapat dikendalikan dan reposisi aspek-aspek situasi yang tidak dapat dikendalikan, (2) Appreciation for the present, yaitu mencari dan menghargai aspek-aspek positif dari sebuah situasi yang tidak menguntungkan untuk menghindari sikap defeatist yang bisa melumpuhkan usaha individu untuk mencapai tujuannya. (3) Opportunity seeking for the future, yaitu seorang akan melihat masa depannya dengan melihat sejumlah kesempatan yang ada.

Hadirin Yang kami hormati,

Aspek modal psikologis ketiga adalah harapan (hope). Apakah anda termasuk orang yang punya kemauan keras? Apakah anda tahu persis tujuan hidup anda? Apakah anda merasa dapat mengendalikan nasib sendiri? Apakah anda cukup persisten (bersedia mengorbankan waktu anda) untuk menyelesaikan tugas yang telah anda tetapkan sendiri? Sulitkah bagi orang lain untuk membelokkan anda dari tujuan anda? Apakah anda cenderung menetapkan sendiri tujuan anda? Apakah tujuan yang anda tetapkan sangat menantang? Apakah anda senang terikat dengan tujuan-tujuan yang anda tetapkan tersebut?

Jika sebagian besar jawaban anda adalah "ya" pada pertanyaan-pertanyaan di atas, anda telah menunjukkan adanya kekuatan kemauan (willpower), sebagai salah satu komponen dari harapan. Kemauan saja belum cukup untuk menunjukkan seseorang memiliki PsyCap Hope. Seseorang juga harus memiliki cara (pathways) untuk mencapai tujuan anda.

Agar seseorang memiliki komponen cara (pathways), maka seseorang harus memiliki jawaban "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah anda secara proaktif menentukan cara-cara untuk mencapai tujuan anda? Apakah anda selalu mencari cara alternatif untuk mencapai tujuan anda? Jika menemui hambatan dalam pencapaian tujuan, apakah anda sudah punya alternatif lain untuk mengatasi hambatan tersebut? Apakah anda punya kekuatan (strength) untuk mengimbangi kelemahan-kelemahan anda?

Harapan sering digunakan dalam pembicaraan sehari-hari, dan seringkali pula ada mispersepsi tentang makna harapan. Banyak yang mengartikan harapan (hope) sebagai wishful thinking (keinginan pikiran) kadang yang hanya berupa sikap positif pada tujuan tertentu, atau bahkan sebuah ilusi belaka. Jika seseorang harus melakukan sesuatu dengan cara tertentu saja dan tidak melihat cara lain, maka orang tersebut akan mengalami tidak hanya frustrasi, melainkan sudah mengalami tahap awal ketidakberdayaan.

Orang yang memiliki harapan tinggi (high-hopers) adalah para pemikir independen yang memiliki internal locus of control, membutuhkan tingkat otonomi yang cukup tinggi dan tidak suka diatur. Orang tipe ini memiliki motivasi besar untuk terus tumbuh dan memiliki motivasi instrinsik yang sangat kuat untuk memperkaya tugas atau pekerjaannya. Orang tipe ini cenderung kreatif dan banyak memiliki sumber daya, dan sangat mungkin menjadi enterprener yang sukses.

Sementara itu, orang yang tidak memiliki harapan rendah (low-hopers) akan menjadi orang penurut (konformis) dengan peraturan yanga dan sangat patuh pada atasan. Atasan bisa saja melihat kelompok ini sebagai bawahan yang kooperatif, dapat dengan mudah diajak bekerjasama, padalah apa yang dilakukan seringkali tidak sesuai dengan keinginan pimpinannya, karena golongan ini ini suka terlihat "sibuk" di kantor.

Sebagaim pemimpin bangsa, harapan pada rakyat harus dilontarkan, sehingga harapan itu akan membawa kemajuan pada bangsa ini. Sebagai calon legislatif, harapan-harapan yang disampaikan apda konstituen haruslah harapan yang realistik, bukan wishful thinking. Kita bisa memperhatikan bagaiaman para pemimpin atau calon legislatif yang berkampanye. Sesekali kita bisa menayakan bagaimana usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bila jawabannya adalah tidak tahu, atau itu tergantung pada Tuhan, maka harapan kosong itulah yang akan diberikan kepada kita semua.

Sebagai bangsa yang ingin membentuk kemandirian, harapan-harapan harus dibangung dalam diri sanubari seluruh komponen bangsa ini. harapan akan munculnya masa depan yang lebih cerah dari hari ini, haparan bahwa hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini, harus selalu didengungkan. Setelah harapan ditetapkan, masyarakat harus juga mengetahui cara (patways) menempuh harapan yang dicanangkan itu. Dalam penemuan cara ini, masyarakat harus mengetahui langkah-langkah yang rasional untuk mencapai tujuan yang menjadi harapan.

Hadirin yang saya hormati,

Aspek keempat dari modal psikologis (PsyCap) adalah resilliency. Resilliency juga sering dibahas secara terpisah, terutama oleh pelopor gerakan `living values'. Di dalam domain psikologi, penelitian dan praktik resiliensi sudah cukup lama dikenal dalam bidang psikologi klinis, sebelum gerakan psikologi positif berkembang. Pada waktu itu bidang psikologi masih berorientasi psikologi negatif. Maka tidak heran kalau penelitian-penelitian awal psikologi yang negatif ini berfokus pada anak yang tumbuh di keluarga beresiko tinggi, remaja bermasalah, dan keluarga bermasalah.

Resiliensi tidak saja terjadi pada tingkatan individual. Pada tingkatan organisasi resiliensi juga pernah diteliti oleh Youssef (2004). dalam disertasinya ia membuat simpulan bahwa organisasi juga mengalami proses resiliensi. resiliensi menurutnya berkorelasi positif dengan harapan, optimisme, dan efficacy para pemimpin dalam organisasi itu.

Dari hasil penelitian-penelitian yang ekstensif dengan pendekatan problem-centered inilah muncul istilah-istilah `survivors' dan `exceptional individuals', istilah yang digunakan untuk mereka yang cukup kuat menjalani kehidupan yang normal setelah melalui pengalaman-pengalaman traumatik. Orang-orang yang resilien setelah mengalami masalah yang sangat berat menjadi fokus penelitian resiliensi.

Dalam domain penelitian psikologi positif, para peneliti mengkonstruk ulang resiliensi dengan memperhatikan kemampuan dan kekuatan psikologis pada semua orang di semua rentang usia dan semua kondisi psikologis, tidak hanya pada orang­orang bermasalah yang menjadi survivors. Oleh karena itu, definisi resiliensi pun menjadi lebih kaya, yaitu kemampuan individu untuk `memantulkan kembali' kegagalan, konflik, kesulitan dan bahkan kejadian-kejadian positif seperti progress dan tanggungjawab yang meningkat.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang bisa digunakan untuk merefleksikan diri apakah kita memiliki resiliensi tinggi atau tidak. (a) Kapan terakhir anda mengalami kesulitan, konflik, kegagalan, atau kejadian positif lain yang menurut anda `too much'? (b) Konkretnya, masalah1kejadian apakah itu? (c) Apakah menurut anda kejadian tersebut datang secara tiba-tiba dan tidak diharapkan, atau perlahan-lahan tetapi menguras emosi? (d) Strategi koping apa yang anda terapkan untuk berhadapan dengan kejadian tersebut? (e) Seberapa efektif strategi anda? (f) Setelah melakukan coping, apakah anda dapat pulih kembali dari kejadian tersebut? Jika'ya' kenapa? Jika `tidak' mengapa? (g) Pelajaran apa yang dapat anda petik dari pengalaman tersebut? (h) Apakah ada alternatif lain untuk mengatasi kejadian tersebut? (i) Secara keseluruhan, setelah menghadapi permasalahan1kejadian yang mengejutkan di masa lalu, menurut anda, apakah anda bisa menjadi `normal' kembali atau menjadi lebih dewasa, atau anda merasa ada sesuatu yang hilang yang tidak mungkin kembali lagi?

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tantang diri anda kembali dengan mencoba mengingat waktu-waktu di mana anda secara sukarela keluar dari jalur' anda dan meninggalkan zona nyaman (comfort zone) untuk mengejar sesuatu yang baru dan tidak diharapkan, dan kemudian dengan melanjutkan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini Kapankah terakhir saya (a) Secara sukarela melakukan sesuatu yang sama sekali baru dan sulit? (b) Melakukan sesuatu yang tidak biasa, meskipun saya berpikir itu terlalu beresiko untuk saya? (c) Bepergian keluar negeri? (d) Mencoba makanan baru yang belum pernah saya coba sebelumnya? (e) Mengambil rute yang berbeda dengan rute yang biasa saya ambil, sekedar iseng saja? (f) Mendengarkan jenis musik yang belum1jarang saya dengar? (g) Membaca sesuatu yang belum pernah saya baca karena rasa ingin tahu? (h) Menerima ide orang lain karena saya pikir idenya lebih baik daripada ide saya sendiri? (i) Berteman dengan orang-orang yang berbeda pandangan dan tidak menarik bagi saya? (j) Meminta bantuan kepada orang-orang yang statusnya di bawah saya? (k) Memberanikan diri untuk sekali-sekali tidak melakukan persiapan untuk melakukan improvisasi di tempat? (l) Pindah ke lokasi yang baru? (m) Mencari karir yang baru di tempat yang baru? (n) Kembali ke sekolah dan mengambil bidang yang berbeda dengan bidang lama yang telah saya kuasai? (o) Memberikan kebebasan penuh kepada orang-orang yang bekerja untuk saya untuk mengambil keputusan penting?

Jawaban jawaban dan pengalaman dari pertanyaan tersebut akan membawa kita pada pemikiran seberapa besar kita berani menghadapi tantangan dan seberapa bersar pula kita tangguh dalam menghadapi tantangan. Orang yang besar biasanya orang yang memiliki prinsip hidup. Ibarat karang di tepi laut, karang akan tegar walau diterpa ombak yang besar.

Hadirin Yang Kami Hormati,

Bila modal psikologi lebih banyak menekankan pada penguatan karakter individual dalam mencapai tujuan, maka modal sosial, menurut Nan Lin (2004) akan lebih banyak menekankan pada aspek koneksi dan relasi dalam mencapai tujuan.

Routle Routledge and Amsberg (2003) mengidentifikasi bahwa istilah modal (capital) yang digunakan Hanifan di tahun 1916 menekankan pada pentingnya struktur sosial seseorang dalam perspektif bisnis dan ekonomi. Dari pendapat tersebut mencerminkan bahwa modal usaha tidak cukup hanya uang, melainkan juga modal sosial. Sementara itu, Woolcock and Nerayan (2000) mengggambarkan lebih terinci karya Hanifan tersebut bahwa modal sosial merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pentingnya partisipasi komunitas dalam meningkatkan performa sekolah. Digambarkan oleh Woolcock dan Narayan (2000) bahwa modal sosial itu merupakan substansi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari seseorang, seperti kemauan baik (goodwill), dukungan (fellowship), simpati, dan hubungan sosial diantara individu dan keluarga yang membentuk unit sosial. Bila individu melakukan kontak dengan tetangganya dan dan mereka bersama tetangganya maka akan terdapat akumulasi modal sosial yang dengan segera memuaskan kebutuhan sosial http://www.gnudung.com/literature/evolution.html.

Dimensi modal sosial sangat luas dan kompleks. Modal sosial ini berbeda dengan modal manusia (human capital). Apabila dalam modal sosial segala sesuatunya lebih mengarah pada dimensi individual seperti daya dan keahlian yang dimiliki seorang individu, maka pada modal sosial ini, potensi kelompok dan pola-pola hubungan antar individu dalam suatu kelompok dan antar kelompok lebih mendapatkan tekanan.

Robert D Putnam (2000) memberikan proposisi bahwa suatu entitas masyarakat yang memiliki kebajikan sosial yang tinggi, tetapi hidup secara sosial terisolasi akan dipandang sebagai masyarakat yang memiliki tingkat Modal Sosial yang rendah.

Salah satu tokoh utama yang sangat berpengaruh dalam pemikiran Modal Sosial yaitu James Coleman (1990). Atas hasil studinya tentang pemuda dan pendidikan (youth and schooling), Colemen (1990) mendefinisikan konsep Modal Sosial sebagai varian entitas, terdiri dari beberapa struktur sosial yang memfasilitasi tindakan dari para pelakunya, apakah dalam bentuk personal atau korporasi dalam suatu struktur sosial. Modal sosial menurutnya inheren dalam struktur relasi antarindividu. Struktur relasi dan jaringan inilah yang menciptakan berbagai ragam kewajiban sosial, menciptakan iklim saling percaya, membawa saluran informasi, dan menetapkan norma-norma dan sangsi sosial bagi para anggotanya.

Francis Fukuyama (2000) menekankan pada dimensi yang lebih luas yaitu segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan, dan di dalamnya diikat oleh nilai-nilai dan norma-norma yang tumbuh dan dipatuhi. Situasi tersebutlah yang akan menjadi resep kunci bagi keberhasilan pembangunan di segala bidang kehidupan, dan terutama bagi kestabilan pembangunan ekonomi dan demokrasi. Pada masyarakat yang secara tradisional telah terbiasa dengan bergotong royong serta bekerjasama dalam kelompok atau organisasi yang besar cenderung akan meraskan kemajuan dan akan mampu, secara efisien dan efektif, memberikan kontribusi penting bagi kemajuan negara dan masyarakat.

Masing-masing tokoh yang mempopulerkan konsep Modal Sosial memiliki perbedaan penekanan terhadap unsur-unsur yang membentuknya. Perbedaan tersebut juga dalam hal pendekatan analisis. dari berbagai konsep yang telah disebutkan di atas, intinya konsep Modal Sosial memberikan penekanan pada kebersamaan masyarakat untuk mencapai tujuan memperbaiki kualitas kehidupan dan senantiasa melakukan perubahan dan penyesuaian secara terus menerus.

Pada modal sosial ini terdapat unsur-unsur seperti jaringan sosial, norma, nilai, dan kepercayaan antar sesama. Jaringan sosial yang luas akan akan mendorong orang untuk melakukan kerjasama yang saling menguntungkan, dan bukan kerjasama yang saling merugikan. Jaringan juga bisa melahirkan koneksi dan relasi yang saling tergantung (interdependent), dan bukannya jaringan yang menimbulkan ketergantungan (dependency) satu pihak pada pihak yang lain.

Dalam interaksi sosial, norma dan nilai dibutuhkan bagi individu untuk mengatur proses interaksi tersebut. Kesepakatan-kesepakatan akan timbul dan aturan­aturan akan disusun untuk memperlancar proses interaksi sosial. Dalam organisasi yang lebih luas, norma dan aturan ini dapat berupa perjanjian-perjanjian yang mengikat antara kedua kelompok atau lebih. Dalam konteks negara misalnya, norma dan nilai bisa dibangun karena kesepakatan bersama baik secara bilateral (antara dua negara) maupun multilateral (melibatkan banyak negara).

Satu unsur lagi yang melandasi interaksi dalam modal sosial adalah munculnya perasaan saling percaya (trust). Interaksi yang baik akan didasari oleh kepercayaan yang tinggi antara masing-masing pihak. Ketidakpercayaan antara pihak yang berinterkasi dapat melahirkan ketegangan dan konflik, terlebih lagi apabila dalam interaksi tersebut ada usaha untuk saling merugikan satu dengan yang lain.

Bagaimana menggunakan modal sosial ini untuk membangun kemandirian bangsa? Kemandirian bangsa bila dikaitkan dengan modal sosial, maka negara harus mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya. Pemimpin harus dipercaya rakyatnya. Rakyat harus mendapatkan kepercayaan pemimpinnya. Lembaga-lembaga yang ada harus saling mempercayai. Syarat kepercayaan itu antara lain adalah adanya norma atau nilai yang disepakati bersama. Bila relasi ini meningkat dalam konteks yang lebih luas, maka modal sosial yang dibangun juga akan semakin meningkat.



Hadirin Yang kami hormati,

"Jangan menjadi pemalas dan mudah menyerah. Sifat yang harus dimiliki bangsa ini adalah tangguh, ulet, peduli dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi," Kata-kata ini bisa kita ingat bersama di saat Presiden Susilo Bambang Yudoyono saat menyampaikan pidatonya di acara puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2008 lalu di Auditorium Universitas Airlangga.

Dari pidato itu menunjukkan bahwa ada karakter bangsa perlu diubah. Karakter bangsa yang pemalas dan mudah menyerah harus digantikan dengan karakter yang tanggguh, ulet, peduli dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bak gayung bersambut dengan pidato tersebut, maka saya menghimbau bahwa kepemilikan modal psiko-sosial bangsa ini akan mampu mengangkat bangsa ini menjadi mandiri.

Untuk mengakhiri pidato saya ini, perkenankan saya mengambil rangkuman, bahwa kemandirian seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan salah satunya adalah dimilikinya modal psikologis. Modal psikologis yang perlu ditanamkan adalah adanya efficacy (keyakinan diri) bahwa kita mampu mandiri, adanya harapan jauh ke depan akan adanya perubahan yang positif, cara pandang terhadap masalah yang positif yang tercermin dari sikap pribadi yang optimisme, dan ketangguhan (resiliensi) terhadap

Sementara itu, ketika berinterkasi dengan dunia luar dibutuhkan kepercayaan (trust) dan jejaring sosial yang luas. Tanpa jejaring ini tidak akan ada kesuksesan dalam membangun kemandirian. Jejaring tidak dimaksudkan untuk membuat ketergantungan-ketergantungan baru (dependensi), melainkan untuk membuat saling ketergantungan (interdependensi), sehingga dengan interdependensi ini menghasilkan perasaan percaya dan sikap saling menghormati.

Dukungan lain dari kajian ini adalah penelitian Norman (2003) menunjukkan bahwa kepercayaan bawahan bisa ditumbuhkan dengan adanya PsyCap yang tansparansinya tinggi. Dukungan ini timbul karena adanya kepercayaan bawahan pada atasan. Implikasinya dalam membangun negeri ini, apabila kita ingin membentuk kemandirian yang baik, maka seorang pemimpin harus memiliki PsyCap yang tinggi. Dengan PsyCap yan tinggi dan langkah-langkah untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan itu dilakukan dengan tansparansi yang tinggi, maka kepercayaan rakyat akan semakin meningkat. Dengan meningkatnya kepercayaan ini, bangunan interkasi dan tatanan sosial akan semakin kuat pula. Rakyta tidak akan menolak bila sengsara bersama-sama.

Hadirin yang saya muliakan,

Diakhir pidato saya ini, sekali lagi perkenankanlah saya memanjatkan puji syukur `Alhamdulillahhi robbil `alamiin" ke hadirat Allah swt, atas rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga saya dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini. Saya menyadari bahwa apa yang saya peroleh saat ini bukan semata-mata karena usaha saya sendiri, saya ini hanyalah seperti tokoh wayang dalam pedalangan. Apa yang saya alami hanyalah amanah dan pemberian dari Allah swt. Selain itu, keberhasilan ini juga sebagai hasil bantuan dari banyak pihak. Sudah sepantasnyalah pada kesempatan yang baik ini dari hati yang paling dalam saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak tersebut.

Kepada Pemerintah Republik Indonesia, melalui Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibdyo, MBA beserta jajarannya. Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan akademis sebagai Guru Besar di Bidang Psikologi Sosial pada Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Kepada yang terhormat Ketua Senat Akademik Universitas Airlangga Prof Dr. Sam Suharto, dr.Sp. MK
, Sekretaris Senat Alademik Universitas Airlangga Prof Dr. Frans Limahelu, SH.LLM dan seluruh Asnggota Senat Akademik Universitas Airlangga, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediannya untuk menyetujui dan menerima saya sebagai Guru Besar di lingkungan Universitas Airlangga.

Kepada Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Fasich, Apt., beserta para Wakil Rektor, para Direktur, dan lembaga di Universitas Airlangga, saya mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para mantan Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr Med., dr. Puruhito, Prof. dr Soedarto, dr DTM&H, Prof Dr. dr. Bambang Rahino Setokusuma, dan Prof. dr. Soedarso Djojonegoro yang telah memberikan kesempatan saya belajar untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Kepada yang saya hormati para Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Prof. Hanafi Molyohardjono, SpKJ, Prof. dr. Marlina S Mahajudin, dan Prof Dr M Zainudin, Apt. saya menyampaikan terima kasih yang tiada terhingga, karena dari pada pimpinan ini saya dapat belajar dan menimba ilmu.

Kepada rekan saya seperjuangan, three musketeer, Prof. Dr. Fendy Suhariyadi, MT (Direktur Sumber Daya) dan Dr. Seger Handoyo, yang sekarang menjadi Dekan di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, terima kasih atas kebersamaan selama ini yang selalu diwarnai sikap saling asah, asih, dan asuh.

Kepada yang terhormat Ketua Badan Pertimbangan Fakultas ibu Dra Prihastuti, SU dan seluruh anggota Badan Pertimbangan Fakultas Faultas Psikologi Universitas Airlangga, saya menyampaikan terima kasih atas kesediannya merapatkan dan mencari peer-reviewer hingga mengusulkan kepangkatan saya menjadi Guru Besar.

Ucapan terima Kasih juga saya sampaikan kepada para review kepangkatan saya Prof. Dr. Enoch Markum dari Universitas Indonesia, Prof. Djamaludin Ancok, Ph.D, dan Prof Dr. Zulriskar dari Universitas Padjadjaran Bandung. Karena saran dan masukan beliau ini sehingga proses penilaian angka kredit kepangkatan saya tidak mengalami hambatan sesuatu apa pun.

Ucapa terima kasih saya sampaikan kepada para promotor saya saat menempuh program doktoral di Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Bimo Walgito, Prof Djamaludin Ancok, Ph.D, dan Prof Safri Sairin. Ph.D atas bimbingannya selama ini.

Para Dosen saya senior seperti Drs. Ino Yuwono, MA, Drs EM Agus Subekti, M.Kes, M.Psi, Drs. Hawaim Machrus, MS, Drs. Sudaryono, SU, Dra. Woelan Handadari, M.Si, Dra.Veronica Suprapti, MS.Ed. dan Drs. Duta Nurdibanandaru, saya menyampaikan terima kasih yang dalam.

Khususnya kepada Yang saya hormati, Dr. Yoseph Jangkung Karyantoro, MBA atas saran, wejangan dan arahannya, saya akhirnya memilih psikologi sosial sebagai peminatan dan menjadi guru besar di bidang ini pula. Oleh karena itu tiada kata yang pantas saya ucapkan kecuali terima kasih yang sedalam-dalamnya.

Untuk guru-guru SD Saya, SMP dan SPG yang telah mengajari saya, terima kasih atas bimbingannya selama ini. Tiada kata terindah yang bisa aku kenang, kecuali jasajasa para pendidik di lembaga itu.

Hadirin Yang Saya Muliakan,

Pada kesempatan ini, perkenankan saya untuk mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada almarhum bapak saya, Sastro Wojono yang telah meninggalkan saya sejak saya usia 7 tahun dan almarhumah si-mbok saya Rusmini yang telah menjadi single parent dan harus mengasuh dua anak yang sedang membutuhkan bimbingan dan biaya. dari orang tua inilah sebenarnya saya dapat pelajaran hidup yang sangat berharga, `sapa sing temen bakal tinemu". dan pelajaran lain adalah doa orang tua, terutama ibu adalah sangat mujarab. maka jang pernah sekalipun berani sama ibunya.

Terima kasih juga saya sampaikan pada almarhum dan almahumah mertua saya, bapak Sutarno Tjotrohartono dan Ibu Suharti yang telah mengasuh saya selama kuliah S2 di Universitas Gadjah Mada.

Kepada kakakku Hardjito beserta keluarganya saya sampaikan hormat dan kasih sayang yang dalam, semoga apa yang kita alami berdua menjadi contoh bahwa Yang Kuasa itu bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dalam Surat Yaasiin ayat 82 Innamaa amruhu idzaa araada syai-an ay yaquula lahuu kun fayakuun" Sesungguhnya Perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah" maka terjadilah ia.

Kepada keluarga saudara ipar saya dan seluruh keluarga Dr. Ir. Sri Widji Mulyono, MS., Drs. Tri Budi Setyono, Drs. Bambang Puji Raharjo, Djoko Heriyatmono, SH, Eko , SH, Hasto Waluyo, dan Wahyu Hartono. Atas kesabaran dan dukungannya selama ini saya menyampaikan terima kasih.

Kepada istriku yang tercinta Dra. Sri Puji Astuti Wahyuningsih, M.Si, tiada kata terindah yang bisa saya sampaikan kecuali ucapan terima kasih yang sangat mendalam atas segala dukungan, bantuan, dorongan, kasih sayang yang tulus selama ini diberikan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa menyelesaikan S3-nya.

Kepada anak-anakku yang aku kasihi, Baskara Wiku Adi Kusuma, Yogeswari Sista Shintyamani, Lukiteswari Dyah Tri Hapsari, dan Lakshiteswari Dyah Cundhamani. Terima kasih saya sampaikan atas segala pengertian, kasih sayang, dan dukungan yang diberikan kepada saya. Hanya doa dan ridhlo Alah swt sajalah yang mampu memberikan kekuatan untuk menapaki hidup yang tidak mudah dicapai ini.

Kepada seluruh panitia yang terlibat dalam prosesi ini, yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang diketuai oleh istri saya sendiri, saya mengucapkan penghargan dan rasa terima kasih yang dalam.

Demikian pidato saya, terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesabaran hadirin dan mohon maaf apabila ada kekuarangan dan ada yang tidak berkenan. Pada kesempata yang baik ini, saya jugamemohon maaf apabila ada kesalahan dalam ucapan, tindak tanduk dan tutur kata baik yang sengaja ataupun tidak sengaja.

Billahitaufiq wal hidayah

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.




DAFTAR PUSTAKA

Ancok, D (2003) Modal Sosial dan Kualitas Masyarakat. Pidato Pengukuhan Guru Besar di Universitas Gadjah Mada. Jogjakarta

Anonim. Presiden : Pendidikan Harus Bentuk Nilai dan Karakter Bangsa Yang Kuat. Antaranews http://www.antara.co.id1arc/2008/5/12/presiden--pendidikan­harus-bentuk-nilai-dan-karakter-bangsa-yang-kuat1 (Diakses 1 Pebruari 2009)

Anonim, (2009). Social Capital. http://www.gnudung.com1literature1evolution.html (Diakses 1 Pebruari 2009)

Coleman, J.(1990). Foundations of Social Theory. Cambridge: Harvard University Press

Fukuyama, F. (2000). The Great Depression: Human Nature and the Recosntitution of Social Order.
London: Profile Book

Lin, N., (2004). Social Capital:A Theory of Structure and Action. Cambridge: Cambridge University Press.

Luthans, F, Joussef, C.M., & Avolio, B.J., (2007). Psychological Capital: Developing The Human Competitive Edge. Oxford: Oxford University Press.

Norman, S.M. (2006) The Role Of Trust: Implications For Psychological Capital And Authentic Leadership. Dissertation. The Faculty of The Graduate College at University of Nebraska: ProQuest Information and Learning Company. Putnam, R.D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon and Schuster

Youssef, C.M., (2004). Resilliency Development of Organizations, Leaders and Employees: Multi-level Theory Building and Individual-Level, Path­Analitical Empirical Testing. A Dissertation, The Faculty of The Graduate College at University of Nebraska: ProQuest Information and Learning Company.





Last Updated on Friday, 02 July 2010 23:17